Artikel ini sebenarnya saya sadur dari Buku Melawat Ke Alam Neraka, hasil terjemahan dari kitab “Ti Yi You Ci”. Dan saya persingkat, karena kitab ini sangat tebal. Saya hanya mengambil inti-intinya saja. Kitab ini dibuat atas titah Yang Maha Mulia Giok Hong Tai Tee (Kaisar Jade, Penguasa Tertinggi Centra Langit). Mungkin di antara para pembaca ada yang tidak percaya adanya hal ini. Tetapi saya hanya berharap Anda semua memikirkannya, agar kita tidak terperosok ke Alam Neraka, jika ternyata hal ini benar-benar ada. Saya hanya ingin membagi apa yang telah saya baca. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Team Penterjemah Ci Hua Thang, Yayasan Dharma Abadi Semarang. Kepada Para Buddha dan Bodhisatava, serta Para Dewa dan Roh Suci. Kitab ini berisi perjalanan Mediator Utama yang memegang Pena Sakral bernama Yang Sheng dengan dibimbing oleh Budha Hidup Ci Kung ke Alam Neraka.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 12
Melawat ke Sub Seksi Neraka Kelaparan
“Melantunkan sebuah lagu berjudul ‘Menanti angin musim semi’ dengan merdunya, Menari dengan menggoyang-goyangkan pinggul, tanpa disadari kakinya menginjak serangga, Dalam pergaulan hidup sikap manusia terhadap sesamanya meski dikatakan sebagai beradab atau pencerahan humariora, Namun ironisnya pada sisi lain malah terdapat banyak jalan remang-ramang.”
Note: humaniora = ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, berbudaya; seperti teologi, filsafat, ilmu hukum, ilmu sejarah, filologi, ilmu bahasa, kesusastraan, & ilmu-ilmu kesenian.
Daerah ini seperti padang belantara, tidak tampak seorang manusiapun. Tak jauh dari sini, melewati sebuah bukit kecil, ada Neraka Kelaparan. Roh yang masuk ke Neraka ini masuk melalui jalan kecil yang terletak di sebelah kiri. Roh-roh itu berjalan dikawal oleh si Kepala Sapi dan Tampang Kuda menuju ke Neraka Kelaparan. Perwira berKepala Sapi ini buruk rupa dan tampangnya menakutkan, tangannya menggenggam rantai besi dan tombak besi.
Jalanan ini berkerikil semua, lagipula permukaan banyak berlubang, dan digenangi air. Sangat sulit jalannya, telapak kaki serasa ditusuk-tusuk. Di depan tampak dua Perwira lagi sedang mengawal wanita yang dandanannya seperti nyonya kaya, tapi tangannya diborgol rantai besi. Di dunia ini banyak keluarga kaya raya, hidupnya bersenang-senang secara berlebihan, tak menyayangi hasil padi-padian (gandum, beras, sekoi, jawawut, kacang), seenaknya membuang nasi dan sayuran, atau makan terlalu kenyang, maka kini dikurung dalam Neraka Kelaparan, biar ia merasakan apa yang namanya kelaparan.
Bukit ini tidak begitu tinggi, namun pohonnya lebat dan subur, masih ditumbuhi pula gelagah perumpung (rumput yang tingginya mencapai 2 meter, batangnya beruas-ruas), dan banyak tumbuhan sejenis rotan. Keadaannya sama persis dengan bukit yang terdapat di dunia, di atas bukit hanya ada sebuah jalanan kecil yang lebarnya hanya bisa dilewati 3 orang. Setelah melewati bukit ini akan terlihat “Neraka Kelaparan” yang berada di kaki bukit ini. Sekelilingnya dipagari tembok beton, beratap warna hitam kecoklatan. Huruf “Sub Seksi Neraka Kelaparan” dipahat cekung di atas papan, tak begitu jelas. Di kanan-kiri pintu dijaga oleh Prajurit dan Perwira, terhukum perempuan yang dikawal tadi telah masuk ke dalam dengan menunjukkan kartu bukti.
Sub Seksi Neraka ini termasuk Wilayah kekuasaan Astana Kedua dan dinamakan Neraka Kelaparan. Lebar setiap sel sejajar sel penjara di sini hanya muat 3 dipan saja, setiap orang yang berada di dalamnya walau berpakaian bagus, badannya malah kurus, mukanya pun pucat pasi dan tak hentinya merintih. Mereka kebanyakan semasa hidupnya sebagai usahawan, sandang pangan berkecukupan, sekali keluarkan uang ribuan dolar, tiada sayang. Tetapi terhadap pengemis atau orang miskin sama sekali tak punya rasa kasihan. Setelah meninggal semuanya terperosok masuk di sini.
Dipanggillah seorang roh pria berdosa untuk bercerita. Semasa hidup di dunia, dia membuka pabrik, karena usaha lancar, maka dia mendapat banyak keuntungan. Demi keperluan bisnis, tiap hari dia sering mengadakan kontak sosial dan jamuan makan, keluar masuk restoran sudah seperti ke dapur rumah sendiri, makan, minum, bermain, bersenang-senang, menjadi kesukaannya. Sekali makan bisa menghabiskan uang puluhan ribu, tetapi tak merasa sayang; sebaliknya terhadap kesejahteraan karyawan sendiri, tiada rasa belas kasihan sama sekali, sehingga karyawan sering mengeluh. Jangankan berbuat amal, apabila ada pengemis minta uang atau famili dan teman-teman yang miskin ke rumah mau meminjam uang, dia selalu berpesan kepada pembantunya untuk mengatakan bahwa dia tidak di rumah, tapi menu masakan di rumah selalu yang enak, lezat-lezat dan mahal, tiada berhemat sedikitpun; di luar, dia masih menyimpan banyak wanita simpanan, masing-masing disediakan rumah tinggal tersendiri, tiap bulan menanggung ongkos hidup puluhan ribu Yen untuk para selirnya.
Dua tahun yang lalu dia meninggal karena penyakit darah tinggi dan lalu dihukum ke “Neraka Kelaparan”, meskipun dia mengenakan setelan jas tetapi tiada makanan enak yang bisa dmakan. Dalam satu minggu hanya diberi makan sekali, berupa bubur campur sayuran. Setelah tiga hari dia pingsan karena kelaparan, namun disadarkan oleh si Kepala Sapi dan Tampang Kuda dengan menyiram Air Mengembalikan Roh ke badan, sungguh menderita sekali. Dia sudah tak bisa menahan perutnya yang lapar. Diri sendiri berbuat diri sendirilah yang menanggung, siapa yang menyuruh hidup enak dan bersenang-senang. Lalu disuruh keluarlah roh wanita dosa tadi untuk bercerita. Semasa hidup, dia adalah istri orang kaya, suaminya membuka perusahaan pembangunan, ahli di bidang bangunan rumah. Mereka menjadi kaya, dari rumah yang kecil pindah ke rumah gedung. Karena banyak uang, lama kelamaan mereka terjangkit kebiasaan buruk, belajar main mahyong hingga siang-malam, hanyut dalam judi, pekerjaan rumah tangga diterlantarkan. Di samping itu, dia sering mengajak teman-teman pergi ke nite club berdansa, atau pergi keluar makan malam, selama hidup, hanya makan, minum, judi, dan berfoya-foya, tak pernah sedikitpun mau menghemat uang. Terhadap usaha menolong orang miskin atau usaha amal, dia tak pernah memberikan uang. Setelah meninggal, Yam Ong tanpa ampun, menghukumnya kemari. Roh wanita dosa ini kelaparan sampai tak bisa tahan, sehingga memasukkan jari tangannya ke mulut untuk digigit. Jika semasa hidupnya di dunia sembarangan menyia-nyiakan dan membuang makanan sesukanya, tak menyayangi padi-padian; menghamburkan-hamburkan uang tak berhemat; uang yang dimiliki hanya dipakai sendiri untuk hidup bersenang-senang; tidak diamalkan kepada orang miskin dan orang yang sedang susah, atau disumbangkan kepada usaha kesejahteraan umum; atau pria yang setelah kaya meninggalkan istrinya yang tadinya sama-sama susah, lalu di luar membangun rumah lagi untuk mencari kehangatan hidup bersama wanita simpanan; atau wanita yang menjadi terkenal namanya, seperti bintang penyanyi pada masa kini, begitu naik daun, lantas memandang rendah pria atau suami sendiri dan minta cerai, hidup bersenang-senang, mengejar kemegahan serta kemasyuran nama dan lain sebagainya.
Setiap orang yang menjadi kaya lalu imannya berubah, maka akan timbul prilaku yang rendah budi, setelah meninggal tanpa kecuali semuanya terperosok ke Neraka menerima siksa. Berharap pada orang-orang yang menikmati hidup kaya, bergelimangan dalam kemegahan dan kemashuran lahiriah di dunia, mau mengamalkan uangnya untuk menolong sesamanya.
Janganlah hidup terlalu royal dan mewah. Ingatlah, jika tahunya hanya makan, minum, main, dan bersenang-senang, setelah rejeki habis maka kemalangan yang akan menyusul. Ketahuilah, pada kelahiran ini bisa menikmati hidup kaya dan bergelimangan dalam kemegahan, kemashuran lahir di dunia, adalah merupakan balasan rejeki dari hasil pemupukan amal kebajikan pada kelahiran dulu. Jika di saat kaya tak berprilaku sewenang-wenang, lagi pula memupuk kebajikan dan melakukan kebaikan, membantu orang mengatasi kesusahan, banyak menolong orang yang sedang terdesak oleh keadaan atau dalam kesusahan; atau menyumbang cetak kitab kebajikan untuk menasihati umat, setelah meninggal, tidak saja meninggalkan nama harum, rohnya pun bisa bebas dan naik ke Surga.
11 August 2009
Meninjau Kota Mati Penasaran
Artikel ini sebenarnya saya sadur dari Buku Melawat Ke Alam Neraka, hasil terjemahan dari kitab “Ti Yi You Ci”. Dan saya persingkat, karena kitab ini sangat tebal. Saya hanya mengambil inti-intinya saja. Kitab ini dibuat atas titah Yang Maha Mulia Giok Hong Tai Tee (Kaisar Jade, Penguasa Tertinggi Centra Langit). Mungkin di antara para pembaca ada yang tidak percaya adanya hal ini. Tetapi saya hanya berharap Anda semua memikirkannya, agar kita tidak terperosok ke Alam Neraka, jika ternyata hal ini benar-benar ada. Saya hanya ingin membagi apa yang telah saya baca. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Team Penterjemah Ci Hua Thang, Yayasan Dharma Abadi Semarang. Kepada Para Buddha dan Bodhisatava, serta Para Dewa dan Roh Suci. Kitab ini berisi perjalanan Mediator Utama yang memegang Pena Sakral bernama Yang Sheng dengan dibimbing oleh Budha Hidup Ci Kung ke Alam Neraka.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 8
Meninjau Kota Mati Penasaran
“Dua kali dalam setahun merayakan Festival Bulan Purnama pada Pertengahan Musim Gugur, Adakah saat reuni seperti ini orang-orang turut memikirkan nasib arwah berdosa yang ditahan di Neraka, Mengamblik jalan pintas dengan cara bunuh diri sebagai akibat rasa kecewa, Malapetaka yang sama sekali tak diingini itu hanya bisa ditangisi di Alam Akhirat.”
Gerbang kota itu tertutup. Pintunya adalah pintu otomatis, seperti pintu yang terdapat di toko serba ada di dunia. Setiap roh yang mati penasaran pasti dikawal kemari. Karena matinya tidak wajar, sehingga segumpal hawa kebenciannya belum hilang, maka sesampainya di depan pintu, hawa kebencian ini berbenturan mengadakan kontak dengan pintu ini, sehingga pintu pun terbuka sendiri, karena benda-benda yang terdapat di alam baka semuanya terbentuk dari hawa positif dan negatif (Im dan Yang), berubah menurut pikiran hati.
Bagaimana keadaan dunia batin, begitu pula keadaan dalam Neraka. Ini adalah Kota Mati Penasaran Di sini seperti penjara yang besar, luasnya tak terhitung. Tiap hari ada roh yang mati penasaran kemari. Di kamar penjara pertama terdapat banyak anak-anak kecil, bagian mukanya berdarah semua dan tak henti-hentinya menangis, bahkan ada yang tergeletak di tanah, sungguh menyedihkan dan kasihan.
Mereka adalah anak-anak yang digugurkan oleh umat di dunia, karena raganya sudah terbentuk, rohnya pun tidak musnah. Maka sesudah meninggal datang kemari. Karena umat di dunia tak mau melahirkan, atau karena hubungan haram, lalu kandungannya digugurkan. Satu orang berarti satu nyawa adanya. Bayi-bayi yang dibuang ini karena tak diperkenankan lahir ke dunia, maka rohnya selain disertai rasa benci kepada orang tuanya, secara diam-diam akan menghamburkan kekayaan dan keuangan kedua orang tuanya. Dan setelah orang tuanya meninggal, masih akan diadakan pembalasan.
Karena itu saya menasehati para umat di dunia, jangan sembarangan menggugurkan kandungan. Perbuatan itu selain tak bermoral, juga menjadikan hubungan badan yang hukumnya haram merajalela. Maka bagi yang pernah menggugurkan kandungannya, mulai kini banyaklah berbuat amal kebaikan, untuk menebus kesalahannya, supaya bisa mendapat keringanan hukuman Neraka atas dosanya.
Jika orang yang meninggal karena kecelakaan tidak selalu harus masuk ke Kota Mati Penasaran. Seperti para perwira atau prajurit yang gugur dalam pertempuran membela negaranya, mereka demi mempertahankan kedaulatan tanah airnya, rela berkorban. Mereka selain tidak perlu ditahan di Kota Mati Penasaran, para arwah pahlawan masih akan diperlakukan istimewa. Ada yang naik ke Surga, ada pula yang masuk Alam Dewata sesuai dengan karmanya, atau bereinkarnasi kembali menjadi manusia dan mendapat lingkungan yang penuh berkah.
Berkenaan dengan itu, umat manusia haruslah setia dan cinta negara. Sejak dulu yang telah berbakti dan berjasa pada negara akan meninggalkan nama harum dan selalu dikenang. Langit dan bumi mengasihi orang yang setia dan berbakti.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 8
Meninjau Kota Mati Penasaran
“Dua kali dalam setahun merayakan Festival Bulan Purnama pada Pertengahan Musim Gugur, Adakah saat reuni seperti ini orang-orang turut memikirkan nasib arwah berdosa yang ditahan di Neraka, Mengamblik jalan pintas dengan cara bunuh diri sebagai akibat rasa kecewa, Malapetaka yang sama sekali tak diingini itu hanya bisa ditangisi di Alam Akhirat.”
Gerbang kota itu tertutup. Pintunya adalah pintu otomatis, seperti pintu yang terdapat di toko serba ada di dunia. Setiap roh yang mati penasaran pasti dikawal kemari. Karena matinya tidak wajar, sehingga segumpal hawa kebenciannya belum hilang, maka sesampainya di depan pintu, hawa kebencian ini berbenturan mengadakan kontak dengan pintu ini, sehingga pintu pun terbuka sendiri, karena benda-benda yang terdapat di alam baka semuanya terbentuk dari hawa positif dan negatif (Im dan Yang), berubah menurut pikiran hati.
Bagaimana keadaan dunia batin, begitu pula keadaan dalam Neraka. Ini adalah Kota Mati Penasaran Di sini seperti penjara yang besar, luasnya tak terhitung. Tiap hari ada roh yang mati penasaran kemari. Di kamar penjara pertama terdapat banyak anak-anak kecil, bagian mukanya berdarah semua dan tak henti-hentinya menangis, bahkan ada yang tergeletak di tanah, sungguh menyedihkan dan kasihan.
Mereka adalah anak-anak yang digugurkan oleh umat di dunia, karena raganya sudah terbentuk, rohnya pun tidak musnah. Maka sesudah meninggal datang kemari. Karena umat di dunia tak mau melahirkan, atau karena hubungan haram, lalu kandungannya digugurkan. Satu orang berarti satu nyawa adanya. Bayi-bayi yang dibuang ini karena tak diperkenankan lahir ke dunia, maka rohnya selain disertai rasa benci kepada orang tuanya, secara diam-diam akan menghamburkan kekayaan dan keuangan kedua orang tuanya. Dan setelah orang tuanya meninggal, masih akan diadakan pembalasan.
Karena itu saya menasehati para umat di dunia, jangan sembarangan menggugurkan kandungan. Perbuatan itu selain tak bermoral, juga menjadikan hubungan badan yang hukumnya haram merajalela. Maka bagi yang pernah menggugurkan kandungannya, mulai kini banyaklah berbuat amal kebaikan, untuk menebus kesalahannya, supaya bisa mendapat keringanan hukuman Neraka atas dosanya.
Jika orang yang meninggal karena kecelakaan tidak selalu harus masuk ke Kota Mati Penasaran. Seperti para perwira atau prajurit yang gugur dalam pertempuran membela negaranya, mereka demi mempertahankan kedaulatan tanah airnya, rela berkorban. Mereka selain tidak perlu ditahan di Kota Mati Penasaran, para arwah pahlawan masih akan diperlakukan istimewa. Ada yang naik ke Surga, ada pula yang masuk Alam Dewata sesuai dengan karmanya, atau bereinkarnasi kembali menjadi manusia dan mendapat lingkungan yang penuh berkah.
Berkenaan dengan itu, umat manusia haruslah setia dan cinta negara. Sejak dulu yang telah berbakti dan berjasa pada negara akan meninggalkan nama harum dan selalu dikenang. Langit dan bumi mengasihi orang yang setia dan berbakti.
Meninjau Panggung Cermin Dosa Melihat Roh Dosa Menampakkan Bentuk Asli
Artikel ini sebenarnya saya sadur dari Buku Melawat Ke Alam Neraka, hasil terjemahan dari kitab “Ti Yi You Ci”. Dan saya persingkat, karena kitab ini sangat tebal. Saya hanya mengambil inti-intinya saja. Kitab ini dibuat atas titah Yang Maha Mulia Giok Hong Tai Tee (Kaisar Jade, Penguasa Tertinggi Centra Langit). Mungkin di antara para pembaca ada yang tidak percaya adanya hal ini. Tetapi saya hanya berharap Anda semua memikirkannya, agar kita tidak terperosok ke Alam Neraka, jika ternyata hal ini benar-benar ada. Saya hanya ingin membagi apa yang telah saya baca. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Team Penterjemah Ci Hua Thang, Yayasan Dharma Abadi Semarang. Kepada Para Buddha dan Bodhisatava, serta Para Dewa dan Roh Suci. Kitab ini berisi perjalanan Mediator Utama yang memegang Pena Sakral bernama Yang Sheng dengan dibimbing oleh Budha Hidup Ci Kung ke Alam Neraka.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 6
Meninjau Panggung Cermin Dosa Melihat Roh Dosa Menampakkan Bentuk Asli “Di atas panggung Cermin Dosa, roh berdosa menampakkan bentuk aslinya, Jika semasa hidup memanipulasi kitab suci, baik yang memenggal tulisan, atau menambah isi sesukanya sendiri, Pasti akan diputus perkaranya sesuai hukum akhirat dan tak ada pilih kasih, Umat di dunia yang melakukan kejahatan akan menerima hukuman yang tegas.”
Banyak manusia berdesakan, di belakangnya dikawal oleh petugas akhirat menuju ke panggung depan. Inilah tempat Panggung Cermin Dosa. Orang-orang ini sewaktu di dunia banyak berbuat dosa, atau tidak menjaga moral akhlaknya, roh yang berdosa setelah mendaftarkan diri di Astana I lalu dikawal ke atas Panggung Cermin Dosa.
Dari cermin akan terlihat kejahatan yang pernah dilakukan, agar roh dosa itu tahu bahwa perbuatan jahatnya semasa hidup tidak bisa mengelabui Hukum Neraka. Para roh setelah naik ke panggung menjadi ketakutan dan gemetar, karena melihat perbuatan dosanya muncul di cermin. Cermin ini terbuat dari kumpulan hawa murni dari langit dan bumi. Setiap roh yang datang kemari, pasti akan tercermin/terlihat semua perbuatan yang pernah dilakukannya, sedikitpun tidak bisa disembunyikan.
Sebenarnya ini bukan kehebatan dari cerminnya, melainkan karena sejak kecil sampai tua, seumur hidup manusia banyak berbuat dosa, karena manusia adalah makhluk hidup yang memiliki roh, apa yang ia lakukan, hanya ia sendiri yang tahu, di dalam hanya seperti ada sebuah ‘kamera’, segala perbuatannya terekam dalam lensa kamera. Lensa kamera itulah ‘Cermin Hati’.
Walaupun orang di dunia berbuat jahat secara diam-diam, tidak diketahui oleh orang lain, namun setiap manusia jika bertanya pada hati nuraninya, maka hatinya sudah tahu jelas apa yang dikerjakan oleh tangan maupun kaki. Gerakan kaki dan tangan tak terlepas dari kendali hati, mekanisme inilah yang disebut “Sosok Malaikan” dirinya, yang secara diam-diam memotret segala sesuatu dari hal yang terkecil sampai yang terbesar. Setelah manusia meninggal dihadapkan ke Cermin Dosa di alam baka. Dikarenakan Cermin Dosa ini terbuat dari kumpulan hawa negaitf dan positif, maka begitu menyentuh hawa arwah manusia, langsung terjadilah kontak elektrik, sehingga tertayang ulang rekaman kejadian semasa hidup seseorang. Maka orang yang berbuat kejahatan, setelah berdiri di hadapan Cermin Dosa akan terlihat belangnya, mereka sulit menyembunyikan kelakuannya.
Kitab Buddha mengatakan: “Segala Perbuatan Lahir Dari Hati, itulah Hakekat Kebenaran yang Sebenarnya.” Roh baik tidak dicerminkan. Di atas panggung tertulis: “Tiada Orang baik Di Depan Panggung Cermin Dosa”. Orang yang baik setelah meninggal hawa rohnya bercahaya terang. Jika dicerminkan, yang terlihat hanyalah sebuah kekosongan (Blank). Jika pancaran sinar roh semakin terang berarti amalnya besar dan akan menuju ke Surga, atau diserahkan ke masing-masing Astana untuk diperiksa jasa kebaikannya, tak usah kemari. Cermin Dosa juga disebut Cermin Kejahatan. Setiap perbuatan dosa karma di dunia, sampai ke sini akan segera terlihat jelas.
Seorang gadis remaja dikawal ke depan Cermin Dosa, dia tidak berani ke depan malah tak henti-hentinya menangis, keadaannya memelas. Namun Pengawal Neraka sepertinya tak punya rasa kasihan, memperlakukannya seperti terpidana, dengan menggunakan tombak besi diangkatnya ke hadapan cermin. Dalam cermin tampak seperti “kompleks rumah bordil”. Perempuan ini menjual badannya untuk mendapatkan uang, menipu harta orang, tutur katanya kasar dan jorok, sedikitpun tak menjaga akhlak wanita, dosanya sungguh besar. Karena tertular penyakit sipilis akhirnya dia mati muda, dan setelah meninggal rohnya takkan terlepas dari hukuman yang tragis di Neraka.
Sebuah nasehat bagi kaum wanita di dunia, seharusnya mereka menjaga kesucian badan sendiri, jangan sampai terjerumus ke lembah pelacuran dan menjual kecantikan menemani pria tidur. Sudah membiarkan harga dirinya terinjak-injak, tak bernilai sedikitpun, masih menciptakan dosa arma yang tak terhingga. Juga bagi para pria yang suka main perempuan, sama halnya harus menanggung dosa berzinah, cepatlah memperbaiki diri.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 6
Meninjau Panggung Cermin Dosa Melihat Roh Dosa Menampakkan Bentuk Asli “Di atas panggung Cermin Dosa, roh berdosa menampakkan bentuk aslinya, Jika semasa hidup memanipulasi kitab suci, baik yang memenggal tulisan, atau menambah isi sesukanya sendiri, Pasti akan diputus perkaranya sesuai hukum akhirat dan tak ada pilih kasih, Umat di dunia yang melakukan kejahatan akan menerima hukuman yang tegas.”
Banyak manusia berdesakan, di belakangnya dikawal oleh petugas akhirat menuju ke panggung depan. Inilah tempat Panggung Cermin Dosa. Orang-orang ini sewaktu di dunia banyak berbuat dosa, atau tidak menjaga moral akhlaknya, roh yang berdosa setelah mendaftarkan diri di Astana I lalu dikawal ke atas Panggung Cermin Dosa.
Dari cermin akan terlihat kejahatan yang pernah dilakukan, agar roh dosa itu tahu bahwa perbuatan jahatnya semasa hidup tidak bisa mengelabui Hukum Neraka. Para roh setelah naik ke panggung menjadi ketakutan dan gemetar, karena melihat perbuatan dosanya muncul di cermin. Cermin ini terbuat dari kumpulan hawa murni dari langit dan bumi. Setiap roh yang datang kemari, pasti akan tercermin/terlihat semua perbuatan yang pernah dilakukannya, sedikitpun tidak bisa disembunyikan.
Sebenarnya ini bukan kehebatan dari cerminnya, melainkan karena sejak kecil sampai tua, seumur hidup manusia banyak berbuat dosa, karena manusia adalah makhluk hidup yang memiliki roh, apa yang ia lakukan, hanya ia sendiri yang tahu, di dalam hanya seperti ada sebuah ‘kamera’, segala perbuatannya terekam dalam lensa kamera. Lensa kamera itulah ‘Cermin Hati’.
Walaupun orang di dunia berbuat jahat secara diam-diam, tidak diketahui oleh orang lain, namun setiap manusia jika bertanya pada hati nuraninya, maka hatinya sudah tahu jelas apa yang dikerjakan oleh tangan maupun kaki. Gerakan kaki dan tangan tak terlepas dari kendali hati, mekanisme inilah yang disebut “Sosok Malaikan” dirinya, yang secara diam-diam memotret segala sesuatu dari hal yang terkecil sampai yang terbesar. Setelah manusia meninggal dihadapkan ke Cermin Dosa di alam baka. Dikarenakan Cermin Dosa ini terbuat dari kumpulan hawa negaitf dan positif, maka begitu menyentuh hawa arwah manusia, langsung terjadilah kontak elektrik, sehingga tertayang ulang rekaman kejadian semasa hidup seseorang. Maka orang yang berbuat kejahatan, setelah berdiri di hadapan Cermin Dosa akan terlihat belangnya, mereka sulit menyembunyikan kelakuannya.
Kitab Buddha mengatakan: “Segala Perbuatan Lahir Dari Hati, itulah Hakekat Kebenaran yang Sebenarnya.” Roh baik tidak dicerminkan. Di atas panggung tertulis: “Tiada Orang baik Di Depan Panggung Cermin Dosa”. Orang yang baik setelah meninggal hawa rohnya bercahaya terang. Jika dicerminkan, yang terlihat hanyalah sebuah kekosongan (Blank). Jika pancaran sinar roh semakin terang berarti amalnya besar dan akan menuju ke Surga, atau diserahkan ke masing-masing Astana untuk diperiksa jasa kebaikannya, tak usah kemari. Cermin Dosa juga disebut Cermin Kejahatan. Setiap perbuatan dosa karma di dunia, sampai ke sini akan segera terlihat jelas.
Seorang gadis remaja dikawal ke depan Cermin Dosa, dia tidak berani ke depan malah tak henti-hentinya menangis, keadaannya memelas. Namun Pengawal Neraka sepertinya tak punya rasa kasihan, memperlakukannya seperti terpidana, dengan menggunakan tombak besi diangkatnya ke hadapan cermin. Dalam cermin tampak seperti “kompleks rumah bordil”. Perempuan ini menjual badannya untuk mendapatkan uang, menipu harta orang, tutur katanya kasar dan jorok, sedikitpun tak menjaga akhlak wanita, dosanya sungguh besar. Karena tertular penyakit sipilis akhirnya dia mati muda, dan setelah meninggal rohnya takkan terlepas dari hukuman yang tragis di Neraka.
Sebuah nasehat bagi kaum wanita di dunia, seharusnya mereka menjaga kesucian badan sendiri, jangan sampai terjerumus ke lembah pelacuran dan menjual kecantikan menemani pria tidur. Sudah membiarkan harga dirinya terinjak-injak, tak bernilai sedikitpun, masih menciptakan dosa arma yang tak terhingga. Juga bagi para pria yang suka main perempuan, sama halnya harus menanggung dosa berzinah, cepatlah memperbaiki diri.
Melintasi Perbatasan Pintu Hantu Mendengar Ceramah di Ruangan “Segala Agama Kembali ke Tujuan Pokok”
Artikel ini sebenarnya saya sadur dari Buku Melawat Ke Alam Neraka, hasil terjemahan dari kitab “Ti Yi You Ci”. Dan saya persingkat, karena kitab ini sangat tebal. Saya hanya mengambil inti-intinya saja. Kitab ini dibuat atas titah Yang Maha Mulia Giok Hong Tai Tee (Kaisar Jade, Penguasa Tertinggi Centra Langit). Mungkin di antara para pembaca ada yang tidak percaya adanya hal ini. Tetapi saya hanya berharap Anda semua memikirkannya, agar kita tidak terperosok ke Alam Neraka, jika ternyata hal ini benar-benar ada. Saya hanya ingin membagi apa yang telah saya baca. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Team Penterjemah Ci Hua Thang, Yayasan Dharma Abadi Semarang. Kepada Para Buddha dan Bodhisatava, serta Para Dewa dan Roh Suci. Kitab ini berisi perjalanan Mediator Utama yang memegang Pena Sakral bernama Yang Sheng dengan dibimbing oleh Budha Hidup Ci Kung ke Alam Neraka.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 4
Melintasi Perbatasan Pintu Hantu Mendengar Ceramah di Ruangan “Segala Agama Kembali ke Tujuan Pokok”
“Dengan hati malaikan melintaskan makhluk yang berperasaan, Belum sempat duduk bersila di atas alas duduk sudah buru-buru meninggalkan Alam Dewata, Sekalipun mengenakan baji tanpa rangkapan dan diterpa angin di musim gugur, tetap tak terasa kedinginan, Sebab demi menolong umat, hati nan welas asih cukup untuk membangkitkan energi panas.”
Ada sebuah pintu gerbang tembok benteng dan di atas gerbang tertulis Lintasan Pintu Hantu (Kui Men Kuan) tiga huruf, pintunya tidak terbuka, hanya terdengar suara yang berisik dari dalam tembok benteng. Manusia sesudah mati menjadi hantu, perjalanannya di dunia sudah berakhir, sesudah datang ke sini Pintu Hantu akan terbuka dengan sendirinya. Jika lintasan di alam dunia sudah tertutup, lintasan alam hantu akan terbuka. Itulah keajaiban ‘Kinerja Yin Yang’. Di balin pintu hantu ini ada banyak orang, hiruk pikuk bagai di dalam pasar.
Para roh itu sedang menuju ke Sepuluh Tingkat Neraka untuk disidang, dikawal oleh utusan neraka yang membawa tugas masing-masing. Di depan ada sebuah gedung bertingkat dan tertulis Wan Ciao Kui Cung (Segala Agama Kembali ke Tujuan Pokonya). Jalan yang menuju ke tempat ini naik turun tak rata. Karena di dunia kini banyak timbul bermacam-macam Agama, para umatnya tak memahami Hakekat Kebenaran, saling menjatuhkan agama lain, hilanglah sudah arti sesungguhnya membina Jalan KeTuhanan, dan telah melakukan dosa mulut, maka setelah meninggal harus masuk ke dalam perguruan “Segala Agama Kembali ke Tujuan Pokok” untuk menempa diri kembali. Semua aliran ajaran agama sebenarnya berasal dari satu keluarga, tapi yang terjadi justru saling berebut dan tiada toleransi, mendirikan sekte sendiri-sendiri, mengaku ajaran agamanya sendiri yang paling unggul, sedangkan ajaran agama lain lebih rendah, maka setelah meninggal dunia, rohnya tak bisa sempurna hingga terperosok kemari. Karena Yang Maha Kuasa tak tega mereka terperosok, maka didirikanlah Perguruan Segala Agama Kembali Pada Tujuan Pokok” untuk membimbing para pembina Jalan KeTuhanan yang salah jalan agar memahami hakekat kebenaran, setelah itu baru ada kesempatan naik kembali ke alam yang lebih tinggi.
Ruangan perguruan itu luasnya ada beberapa hektar, didalamnya seperti ruangan kelas, tempat duduknya telah dipenuhi puluhan ribu orang, yang terdiri dari bermacam-macam bangsa dari segala penjuru dunia, seperti mau memulai pelajaran. Di depan ada papan tulis dan tertera 4 huruf : Wan Ciao Kui Cung (Segala Agama Kembali Pada Tujuan Pokok). Seorang Guru yang gundul kepalanya sedang naik ke mimbar, berpakaian seperti seorang Bikkhu. Para murid berdiri semua, setelah memberikan hormat kemudian duduk lagi.
Dunia itu luas, etnisnya beragam, tapi kepercayaan yang dianut tak lain merupakan tumpuan spiritual/batiniah, lagipula setiap manusia mempunya hati yang sama, setelah meninggal rohnya menjadi responsif sifatnya (tidak tanggap). Tidak karena berlainan etnis lalu menjadi berlainan ‘hati’. Seperti halnya Buddha Berkhotbah Dengan Satu Suara, Para Umat pun Akan Mendapat Hikmah Tersendiri Sesuai Golongan Statusnya. Walaupun manusia sangat beragam, namun di dalam jiwanya memiliki dasar Hakekat Kebenaran yang sama, meskipun seseorang dilahirkan dan menempuh hidup dalam kondisi dan lingkungan yang berbeda-beda, tetapi setelah meninggal akan berpulang pada satu tujuan yang sama. Namun karena perbedaan kepercayaan dan agama, sehingga saling memboikot dan saling menjatuhkan, mengatakan agama miliknya sajalah yang bisa membawanya naik ke surga, agama lain hanya ke neraka. Sehingga keberadaan surga yang memang asalnya sempurna namun dibuat oleh manusia seperti mendirikan mahligai di awang-awang (semu/fatamorgana), mengunci diri sendiri di dalamnya (terikat di dalam kesemuan itu). Bagai masuk ke sangkar burung yang digantung di langit.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 4
Melintasi Perbatasan Pintu Hantu Mendengar Ceramah di Ruangan “Segala Agama Kembali ke Tujuan Pokok”
“Dengan hati malaikan melintaskan makhluk yang berperasaan, Belum sempat duduk bersila di atas alas duduk sudah buru-buru meninggalkan Alam Dewata, Sekalipun mengenakan baji tanpa rangkapan dan diterpa angin di musim gugur, tetap tak terasa kedinginan, Sebab demi menolong umat, hati nan welas asih cukup untuk membangkitkan energi panas.”
Ada sebuah pintu gerbang tembok benteng dan di atas gerbang tertulis Lintasan Pintu Hantu (Kui Men Kuan) tiga huruf, pintunya tidak terbuka, hanya terdengar suara yang berisik dari dalam tembok benteng. Manusia sesudah mati menjadi hantu, perjalanannya di dunia sudah berakhir, sesudah datang ke sini Pintu Hantu akan terbuka dengan sendirinya. Jika lintasan di alam dunia sudah tertutup, lintasan alam hantu akan terbuka. Itulah keajaiban ‘Kinerja Yin Yang’. Di balin pintu hantu ini ada banyak orang, hiruk pikuk bagai di dalam pasar.
Para roh itu sedang menuju ke Sepuluh Tingkat Neraka untuk disidang, dikawal oleh utusan neraka yang membawa tugas masing-masing. Di depan ada sebuah gedung bertingkat dan tertulis Wan Ciao Kui Cung (Segala Agama Kembali ke Tujuan Pokonya). Jalan yang menuju ke tempat ini naik turun tak rata. Karena di dunia kini banyak timbul bermacam-macam Agama, para umatnya tak memahami Hakekat Kebenaran, saling menjatuhkan agama lain, hilanglah sudah arti sesungguhnya membina Jalan KeTuhanan, dan telah melakukan dosa mulut, maka setelah meninggal harus masuk ke dalam perguruan “Segala Agama Kembali ke Tujuan Pokok” untuk menempa diri kembali. Semua aliran ajaran agama sebenarnya berasal dari satu keluarga, tapi yang terjadi justru saling berebut dan tiada toleransi, mendirikan sekte sendiri-sendiri, mengaku ajaran agamanya sendiri yang paling unggul, sedangkan ajaran agama lain lebih rendah, maka setelah meninggal dunia, rohnya tak bisa sempurna hingga terperosok kemari. Karena Yang Maha Kuasa tak tega mereka terperosok, maka didirikanlah Perguruan Segala Agama Kembali Pada Tujuan Pokok” untuk membimbing para pembina Jalan KeTuhanan yang salah jalan agar memahami hakekat kebenaran, setelah itu baru ada kesempatan naik kembali ke alam yang lebih tinggi.
Ruangan perguruan itu luasnya ada beberapa hektar, didalamnya seperti ruangan kelas, tempat duduknya telah dipenuhi puluhan ribu orang, yang terdiri dari bermacam-macam bangsa dari segala penjuru dunia, seperti mau memulai pelajaran. Di depan ada papan tulis dan tertera 4 huruf : Wan Ciao Kui Cung (Segala Agama Kembali Pada Tujuan Pokok). Seorang Guru yang gundul kepalanya sedang naik ke mimbar, berpakaian seperti seorang Bikkhu. Para murid berdiri semua, setelah memberikan hormat kemudian duduk lagi.
Dunia itu luas, etnisnya beragam, tapi kepercayaan yang dianut tak lain merupakan tumpuan spiritual/batiniah, lagipula setiap manusia mempunya hati yang sama, setelah meninggal rohnya menjadi responsif sifatnya (tidak tanggap). Tidak karena berlainan etnis lalu menjadi berlainan ‘hati’. Seperti halnya Buddha Berkhotbah Dengan Satu Suara, Para Umat pun Akan Mendapat Hikmah Tersendiri Sesuai Golongan Statusnya. Walaupun manusia sangat beragam, namun di dalam jiwanya memiliki dasar Hakekat Kebenaran yang sama, meskipun seseorang dilahirkan dan menempuh hidup dalam kondisi dan lingkungan yang berbeda-beda, tetapi setelah meninggal akan berpulang pada satu tujuan yang sama. Namun karena perbedaan kepercayaan dan agama, sehingga saling memboikot dan saling menjatuhkan, mengatakan agama miliknya sajalah yang bisa membawanya naik ke surga, agama lain hanya ke neraka. Sehingga keberadaan surga yang memang asalnya sempurna namun dibuat oleh manusia seperti mendirikan mahligai di awang-awang (semu/fatamorgana), mengunci diri sendiri di dalamnya (terikat di dalam kesemuan itu). Bagai masuk ke sangkar burung yang digantung di langit.
Melawat ke Alam Perbatasan Im dan Yang Meninjau Ruangan Penyerahan Buku Catatan
Artikel ini sebenarnya saya sadur dari Buku Melawat Ke Alam Neraka, hasil terjemahan dari kitab “Ti Yi You Ci”. Dan saya persingkat, karena kitab ini sangat tebal. Saya hanya mengambil inti-intinya saja. Kitab ini dibuat atas titah Yang Maha Mulia Giok Hong Tai Tee (Kaisar Jade, Penguasa Tertinggi Centra Langit). Mungkin di antara para pembaca ada yang tidak percaya adanya hal ini. Tetapi saya hanya berharap Anda semua memikirkannya, agar kita tidak terperosok ke Alam Neraka, jika ternyata hal ini benar-benar ada. Saya hanya ingin membagi apa yang telah saya baca. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Team Penterjemah Ci Hua Thang, Yayasan Dharma Abadi Semarang. Kepada Para Buddha dan Bodhisatava, serta Para Dewa dan Roh Suci. Kitab ini berisi perjalanan Mediator Utama yang memegang Pena Sakral bernama Yang Sheng dengan dibimbing oleh Budha Hidup Ci Kung ke Alam Neraka.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 3
Melawat ke Alam Perbatasan Im dan Yang Meninjau Ruangan Penyerahan Buku Catatan
“Lautan di Alam Buddha tiada berombak dan berdebu sedikitpun,
Untuk menuju ke Gunung Dewata ada jalannya, tanyalah pada sang hati, Mentari dan rembulan muncul silih berganti,
Tersentuh dan merintih dalam hati menyaksikan
Ramainya hilir mudik di ‘Enam Jalur Penitisan’.”
Terlihat jalanan yang suasananya hiruk pikuk. Mereka adalah manusia dari dunia. Inilah tempat perbatasan antara Alam Dunia dan Alam Baka. Mereka adalah roh-roh orang yang meninggal, yang sedang mendaftarkan diri di Alam Baka. Alam Perbatasan ‘Im’ dan ‘Yang’ adalah tempat di antara Alam Dunia dan Alam Baka, tetapi lebih dekat ke Alam Baka. Setelah manusia di dunia meninggal, rohnya akan kemari dan mendaftarkan diri di ruangan ini untuk menyerahkan berkas-berkas dari dunia. Setelah selesai mendaftarkan diri, bagi yang semasa hidup di dunia banyak amal jasa akan diajak oleh Dewa Keberuntungan untuk meninjau Alam Neraka.
Sedangkan yang tiada berjasa amal kebaikan akan dikawal oleh si Hitam dan si Putih masuk ke dalam pintu Hantu dan diserahkan ke dalam ruangan tingkat pertama, menunggu sidang di sana. Manusia memiliki Tiga Berkas Daftar Kependudukan, yaitu Berkas Daftar Kependudukan Asal, berada di Surga, yang merupakan sumber terlahirnya roh asal, bisa disebut sebagai Kependudukan Asal; Berkas Kependudukan di Perantauan tercatat di dunia, sedangkan Berkas Kependudukan Karantina berada di Neraka.
Maka, jika setelah seseorang meninggal, dan sewaktu di dunia tidak berbuat amal jasa kebaikan, maka disebut Berpulang ke Alam “Im” (Alam Gelap/Neraka) dan bukan Berpulang ke Surga. Neraka ibaratnya penjara yang terdapat di dunia, merupakan tempat menerima hukuman bagi penjahat atau orang-orang yang berdosa, bukan tempat asalnya manusia.
Oleh karena itu sewaktu masih hidup di dunia harus banyak membina jalan suci agar bisa kembali ke tempat asal yakni di kampung halaman asal : yaitu Surga. Roh manusia sejak meninggalkan jasad rasanya seperti dalam mimpi, bingung serta tak tahu harus kemana. Walaupun dikawal Utusan Neraka menuju ke alam baka, namun keluarganya kuatir leluhurnya berada di jalan yang gelap dalam perjalanan menuju ke alam baka, maka dinyalakan lampu minyak. Maksudnya untuk menerangi perjalanannya di alam baka, agar lancar, juga dibakarkan uang-uangan untuk biaya di jalan. Prilaku ini boleh dikatakan sebagai wujud laku bakti pada almarhum.
Namun perjalanan ke alam baka tidak perlu uang suap, sudah dengan sendirinya dilaluinya. Jika semasa hidup di dunia hatinya gelap, diterangi dengan berapa lampu minyakpun tetap percuma. Jalan di alam neraka kecil dan sempit, untuk berjalan kaki saja sudah susah, jika mau mengendarai mobil pasti akan kecelakaan, lagipula di Alam Baka tidak terdapat pompa bensin, maka di sini tidak perlu memakai mobil-mobilan. Sedangkan barang-barang seperti televisi, kipas angin, ranjang, dan lain-lain, sebaiknya dipakai di dunia.
Di alam neraka sudah tersedia ranjang papan untuk menyambut roh berdosa masuk neraka. Bisa mohon selamat saja sudah beruntung, malah masih mau bersenang-senang. Di dunia sering berbuat jahat/dosa, kini meninggal masuk ke neraka dan dihukum, mana bisa bersenang-senang lagi?
Manusia di dunia benar-benar bermimpi. Gunung Pangkal Hati juga adalah alam perbatasan Im dan Yang. Jika manusia serig berbuat jahat dan banyak dosa semasa di dunia, setelah ajalnya tiba, akan dikawal dan dibawa kemari oleh utusan dari neraka yaitu Si Hitam dan Si Putih. Karena hatinya kotor tidak bersih, maka begitu melihat sinar di atas gunung yang amat terang, matanya menjadi silau susah dibuka, kakinya akan terpeleset dan jatuh ke Goa Tanpa Dasar yang berada di tepi bawah Gunung Pangkal Hati itu, namun bagi seorang pembina yang besar kebajikannya dan sudah cukup jasa-jasanya, maka begitu rohnya sampai kemari, di atas gunung akan segera muncul sebuah jalan yang bercahaya terang menuju langit, lagipula masih dijemput oleh Malaikat Kecil untuk naik ke Surga. Bagi yang beramal sedang dan berjasa kecil, maka di samping gunung akan muncul jalanan yang lebarnya 200 meter dan diantar oleh Dewa
Keberuntungan ke alam perbatasan Im dan Yang untuk melaporkan kedatangannya. Kemudian masuk ke dalam Kekuasaan Neraka untuk diserahkan pada Yam Ong (Penguasa Neraka) dan diperiksa perbuatan semasa hidupnya, setelah itu masuk ke Tempat Penampungan Orang Baik atau dibimbing oleh Dewa yang berjodoh dengannya untuk diantar ke berbagai Alam Hawa (Alam Astral) untuk dilatih kembali.
Tujuan dari pembuatan kitab ini adalah untuk mengingatkan manusia akan keadaan neraka, agar manusia bisa mempunyai gambaran tentang tragisnya keadaan arwah berdosa di alam neraka, dan akhirnya menjadi sadar.
Semoga artikel ini berguna untuk kita semua. Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyadur.
Babak ke 3
Melawat ke Alam Perbatasan Im dan Yang Meninjau Ruangan Penyerahan Buku Catatan
“Lautan di Alam Buddha tiada berombak dan berdebu sedikitpun,
Untuk menuju ke Gunung Dewata ada jalannya, tanyalah pada sang hati, Mentari dan rembulan muncul silih berganti,
Tersentuh dan merintih dalam hati menyaksikan
Ramainya hilir mudik di ‘Enam Jalur Penitisan’.”
Terlihat jalanan yang suasananya hiruk pikuk. Mereka adalah manusia dari dunia. Inilah tempat perbatasan antara Alam Dunia dan Alam Baka. Mereka adalah roh-roh orang yang meninggal, yang sedang mendaftarkan diri di Alam Baka. Alam Perbatasan ‘Im’ dan ‘Yang’ adalah tempat di antara Alam Dunia dan Alam Baka, tetapi lebih dekat ke Alam Baka. Setelah manusia di dunia meninggal, rohnya akan kemari dan mendaftarkan diri di ruangan ini untuk menyerahkan berkas-berkas dari dunia. Setelah selesai mendaftarkan diri, bagi yang semasa hidup di dunia banyak amal jasa akan diajak oleh Dewa Keberuntungan untuk meninjau Alam Neraka.
Sedangkan yang tiada berjasa amal kebaikan akan dikawal oleh si Hitam dan si Putih masuk ke dalam pintu Hantu dan diserahkan ke dalam ruangan tingkat pertama, menunggu sidang di sana. Manusia memiliki Tiga Berkas Daftar Kependudukan, yaitu Berkas Daftar Kependudukan Asal, berada di Surga, yang merupakan sumber terlahirnya roh asal, bisa disebut sebagai Kependudukan Asal; Berkas Kependudukan di Perantauan tercatat di dunia, sedangkan Berkas Kependudukan Karantina berada di Neraka.
Maka, jika setelah seseorang meninggal, dan sewaktu di dunia tidak berbuat amal jasa kebaikan, maka disebut Berpulang ke Alam “Im” (Alam Gelap/Neraka) dan bukan Berpulang ke Surga. Neraka ibaratnya penjara yang terdapat di dunia, merupakan tempat menerima hukuman bagi penjahat atau orang-orang yang berdosa, bukan tempat asalnya manusia.
Oleh karena itu sewaktu masih hidup di dunia harus banyak membina jalan suci agar bisa kembali ke tempat asal yakni di kampung halaman asal : yaitu Surga. Roh manusia sejak meninggalkan jasad rasanya seperti dalam mimpi, bingung serta tak tahu harus kemana. Walaupun dikawal Utusan Neraka menuju ke alam baka, namun keluarganya kuatir leluhurnya berada di jalan yang gelap dalam perjalanan menuju ke alam baka, maka dinyalakan lampu minyak. Maksudnya untuk menerangi perjalanannya di alam baka, agar lancar, juga dibakarkan uang-uangan untuk biaya di jalan. Prilaku ini boleh dikatakan sebagai wujud laku bakti pada almarhum.
Namun perjalanan ke alam baka tidak perlu uang suap, sudah dengan sendirinya dilaluinya. Jika semasa hidup di dunia hatinya gelap, diterangi dengan berapa lampu minyakpun tetap percuma. Jalan di alam neraka kecil dan sempit, untuk berjalan kaki saja sudah susah, jika mau mengendarai mobil pasti akan kecelakaan, lagipula di Alam Baka tidak terdapat pompa bensin, maka di sini tidak perlu memakai mobil-mobilan. Sedangkan barang-barang seperti televisi, kipas angin, ranjang, dan lain-lain, sebaiknya dipakai di dunia.
Di alam neraka sudah tersedia ranjang papan untuk menyambut roh berdosa masuk neraka. Bisa mohon selamat saja sudah beruntung, malah masih mau bersenang-senang. Di dunia sering berbuat jahat/dosa, kini meninggal masuk ke neraka dan dihukum, mana bisa bersenang-senang lagi?
Manusia di dunia benar-benar bermimpi. Gunung Pangkal Hati juga adalah alam perbatasan Im dan Yang. Jika manusia serig berbuat jahat dan banyak dosa semasa di dunia, setelah ajalnya tiba, akan dikawal dan dibawa kemari oleh utusan dari neraka yaitu Si Hitam dan Si Putih. Karena hatinya kotor tidak bersih, maka begitu melihat sinar di atas gunung yang amat terang, matanya menjadi silau susah dibuka, kakinya akan terpeleset dan jatuh ke Goa Tanpa Dasar yang berada di tepi bawah Gunung Pangkal Hati itu, namun bagi seorang pembina yang besar kebajikannya dan sudah cukup jasa-jasanya, maka begitu rohnya sampai kemari, di atas gunung akan segera muncul sebuah jalan yang bercahaya terang menuju langit, lagipula masih dijemput oleh Malaikat Kecil untuk naik ke Surga. Bagi yang beramal sedang dan berjasa kecil, maka di samping gunung akan muncul jalanan yang lebarnya 200 meter dan diantar oleh Dewa
Keberuntungan ke alam perbatasan Im dan Yang untuk melaporkan kedatangannya. Kemudian masuk ke dalam Kekuasaan Neraka untuk diserahkan pada Yam Ong (Penguasa Neraka) dan diperiksa perbuatan semasa hidupnya, setelah itu masuk ke Tempat Penampungan Orang Baik atau dibimbing oleh Dewa yang berjodoh dengannya untuk diantar ke berbagai Alam Hawa (Alam Astral) untuk dilatih kembali.
Subscribe to:
Posts (Atom)